Kamis, 01 April 2010

Kiat Sukses Berteman Tanpa Konflik


Kiat Sukses Berteman Tanpa Konflik


Hidup bermasyarakat memang sudah menjadi keharusan bagi siapa saja yang hidup di dunia ini. Adakah orang yang bisa hidup sendiri tanpa orang lain? Tentu saja tidak ada. Berbagai macam manusia dengan aneka karakter membuat kita harus bisa menempatkan diri dengan baik. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sebagai teladan ummatnya memilik akhlak yang paling luhur. Beliau shallallahu’alaihi wasallam mengajari kita bagaimana cara berinteraksi dengan sesama muslim bahkan dengan orang kafir sekalipun. Hal ini sebagamana diterangkan dalam firman Allah Ta’ala, yang artinya,
“Sungguh Engkau (Muhammad), seorang yang berbudi pekerti luhur.” (Qs. Al Qolam: 4)
Dan Allah Ta’ala juga berfirman, yang artinya, “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Wahai saudariku, semoga Allah Ta’ala merahmatiku dan dirimu. Marilah kita simak apa yang Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam jelaskan berikut ini dengan pendengaran kita. Dan marilah kita perhatikan apa yang beliau ajarkan kepada kita dengan penglihatan dan mata hati kita. Dengan mata, telinga dan hati seseorang mampu mengambil pelajaran, sehingga apa yang kita simak tersebut bisa menghujam dan tertanam dalam-dalam dalam hati, biidznillahi Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya yang pada demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qs. Qaf: 37)
Di antara kiat berinteraksi dengan sesama muslim yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam adalah:
Memperlakukan Orang Lain Sebagaimana Ia Menyukai Hal Tersebut Diperlakukan untuk Dirinya
Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka ketika maut menjemputnya hendaknya dia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, memperlakukan orang lain sebagaimana pula dirinya ingin diperlakukan demikian.” ( HR. Muslim (1844) dan Nasa’I (4191)
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang hadits ini, “Hadits ini termasuk jawami’ul kalim (kata-kata yang singkat dan padat namun mengandung makna yang luas, – pen) yang ada pada diri Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, termuat banyak hikmah di dalamnya. Ini adalah kaedah yang penting yang seharusnya menjadi perhatian khusus. Hendaknya manusia mengharuskan dirinya untuk tidak berbuat sesuatu kepada orang lain kecuali jika ia menyukai hal tersebut diberlakukan untuk dirinya.” (Syarh an-Nawawi ala Muslim, asy-Syamilah).
Inilah prinsip pertama yang sengaja kami tempatkan diurutan teratas, karena prinsip ini begitu agung dan mulia. Sungguh seandainya saja semua manusia menerapkan prinsip ini tentu tidak ada lagi konflik yang menerpa mereka. Karena mereka akan berpikir dan mempertimbangkan terlebih dahulu sebelum bertindak. Dan berkata di dalam hati, ” Jika aku berbuat demikian kepada saudaraku apakah aku juga rela jika dia berbuat yang sama kepada diriku?”
Jika kita tidak ingin dikhianati maka janganlah kita coba-coba mengkhiananti orang lain. Jika kita tidak ingin ditipu maka janganlah sekali-kali kita menipu orang lain, jika kita ingin orang lain tersenyum kepada kita ketika bersua maka kita pun mengharuskan diri senyum kepada orang lain, jika kita ingin orang lain menyapa dan ramah kepada kita maka hendaknya kitapun mengharuskan diri kita untuk ramah kepada orang lain dan seterusnya. Sehingga ia menjadi orang yang senantiasa mempertimbangkan dengan matang apa yang akan ia perbuat kepada orang lain.
Kami yakin tidak ada manusia yang ingin diperlakukan buruk oleh orang lain, sehingga dengan prinsip ini seharusnya tidak ada lagi pencuri, penipu, perampok, pendusta, orang yang suka mengadu-domba, orang yang suka iri dan dengki, orang yang suka membicarakan kejelekan orang lain, dan lain-lain. Namun sayangnya kebanyakan manusia adalah makhluk yang picik, mau menang sendiri, sehingga apa yang ia perbuat lebih banyak merugikan orang lain daripada memberikan manfaat kepadanya, kecuali orang yang dirahmati Allah. Semoga Allah senantiasa merahmati kita, menjaga kita dan menjauhkan kita dari akhlak yang buruk. Amin.
Berkata Baik atau Diam
Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, ” Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata baik atau diam.” (HR. Muslim No. 222)
Dalam hadits ini Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengaitkan antara berkata baik dengan keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir. Hal ini dikarenakan penjagaan terhadap lisan, mempergunakannya untuk ucapan-ucapan yang baik dan diam untuk ucapan yang buruk adalah salah satu tanda dari keimanan. Sesuatu yang paling berat bagi lisan adalah menjaganya, sebagaimana hadits terkenal yang datang dari Mu’adz radhiallahu’anhu, ketika beliau bertanya kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam, “Ya Rasullullah apakah kami akan disiksa karena perkataan yang kami ucapkan? Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Celaka engkau wahai Mu’adz, bukankah manusia terlungkup diatas hidungnya atau diatas wajahnya di neraka disebabkan perbuatan lisannya?”[1]. Hal ini menunjukkan bahaya lidah tak bertulang, mudah mengucapkan kata namun jika tidak digunakan dalam kebaikan bisa menjadi senjata makan tuan.(Syarh al Arba’in an Nawawiyah, Syaikh Shalih Ibnu Abdil Aziz Alu Syaikh, hal. 90, Dar Jamil ar Rahman as Salafy, Jogjakarta).
Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Hadits di atas memberi isyarat bahwa seseorang yang ingin berbicara sesuatu maka hendaknya dia pikir-pikir dahulu. Jika terlihat tidak ada bahaya yang ditimbulkan maka ia boleh berbicara, namun jika ada tanda-tanda bahaya atau dia ragu-ragu maka sebaiknya dia diam. Ibnu Rajab rahimahullah berkata, ” Hadits ini memerintahkan untuk berbicara dalam hal yang baik-baik dan diam untuk hal yang buruk.” (Qawaid wa Fawaid min al Arba’in an Nawawiyah, Nadzim Muhammad Sulthan, hal 137&138, Dar al Hijrah)
Syaikh Ibnu Shalih al Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Makna ‘berkata baik’ dalam hadits ini, mencakup berkata baik untuk dirinya sendiri maupun berkata baik untuk orang lain. Berkata baik untuk dirinya sendiri ketika seseorang berdzikir kepada Allah, bertasbih kepada-Nya, memuji-Nya, termasuk juga membaca Al Qur’an, mengajarkan ilmu , amar ma’ruf nahi munkar maka ini semua menjadi kebaikan untuknya. Adapun berkata baik kepada orang lain itu berupa perkataan yang membuat senang teman duduknya meskipun belum tentu baik untuk dirinya sendiri”.(Syarh al Arbain an Nawawiyah, Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al Utsaimin)
Saudariku! Semoga Allah senantiasa merahmatimu, berikut ini akan kami sebutkan atsar dari para sahabat dan para tabi’in tentang kehati-hatian mereka dalam menjaga lisan:
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah yang tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, tidak ada di atas bumi ini yang lebih butuh untuk dipenjara lebih lama selain lisanku ini.”
Beliau radhiallahu ‘anhu juga berkata, “Wahai lisan! Katakanlah yang baik-baik niscaya engkau akan beruntung. Diamlah dari kejelekan niscaya engkau akan selamat sebelum engkau menyesali semuanya.”
Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu berkata, “Tunaikanlah hak kedua telingamu daripada hak mulutmu. Karena dijadikan untukmu dua telinga dan satu mulut agar engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara.”
Al Hasan Al Bashri berkata, “Para sahabat berkata, ‘Sesungguhnya lisan seorang mukmin berada di belakang hatinya, jika dia ingin berbicara sesuatu maka dia harus menimbang-nimbang dengan hatinya kemudian baru dia putuskan (berbicara ataukah diam, pen). Adapun lisan seorang munafik berada di depan hatinya, segala sesuatu dia putuskan dengan lisannya tanpa sedikitpun menimbangnya dengan hatinya.” (Tazkiyatunnufus, Dr. Ahmad Farid, as Syamilah)
Lihatlah wahai saudariku! Betapa mereka sangat takut jika lisannya terjerumus kelembah kesia-siaan apalagi kelembah dosa. Namun betapa jauhnya diri kita dengan mereka, mulut kita ini sangat kotor dan penuh dengan tipu daya, mudah berbicara dan tiada faedahnya, suka mengadudomba dan mengumbar fitnah di mana-mana.
Ya Allah, perbaikilah amalan kami dan jauhkan mulut kami dari perbutan keji dan nista. Amin Ya Mujibassailin.
Bermuka Manis Ketika Bertemu
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah sekali-kali engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, meski hanya dengan bermuka manis ketika bertemu dengan saudaramu.” (HR. Muslim (2626), Ahmad (5/173) dan Ibnu Hibban (524))
Syaikh Ibnu Shalih al Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Bermuka manis mampu mendatangkan kebahagiaan kepada siapa saja yang bersua denganmu termasuk mereka yang suka bermuka cemberut ketika bertemu. Ia mampu menghadirkan rasa kasih sayang dan cinta dan membuat hati menjadi lapang. Bahkan kelapangan hati itu tidak hanya pada dirimu tapi juga orang yang yang bertemu denganmu. Namun jika engkau bermuka muram dan merengut pastilah orang-orang akan lari darimu, mereka tidak nyaman duduk bersanding denganmu, lebih-lebih untuk bercakap-cakap denganmu (Kitabul ‘Ilmi, hal 184, Maktabah Nur al Huda).
Saudariku, inilah kemudahan dalam Islam. Allah Ta’ala memberi kemudahan bagi hambanya untuk memperoleh pahala kebaikan. Sekecil apapun kebaikan itu pasti Allah Ta’ala akan membalasnya dengan ganjaran bahkan sampai berlipat ganda.
Saudariku! Apakah kita tidak mau mendapatkan pahala yang tak terduga karena amalan yang tak seberapa? Marilah kita senyum kepada saudari-saudarai kita, bermuka manislah ketika bertemu dengan mereka, niscaya engkau akan merasakan manfaatnya. Coba bayangkan berapa kali kita bertemu dengan saudara kita dalam sehari, seberapa sering kita bermuka manis dengan mereka, sebanyak itupula pahala yang kita dapatkan..
Namun sungguh sangat merugi orang yang suka bermuka masam ketika bertemu dengan saudaranya, betapa banyak pahala yang terluput darinya..
Menebarkan salam
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kuberitahukan sesuatu yang akan membuat kalian saling mencintai?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim N0. 54 dan Bukhari dalam Adabul Mufrad No.980)
Saudariku! Marilah kita perhatikan penjelasan Imam Nawawi berikut ini,
“Makna ‘Kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling mencintai’ adalah tidak akan sempurna iman seseorang, tidak akan membaik kondisi imannya hingga mereka saling mencintai.Adapun sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam ‘Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman’, bermakna sebagaimana zhohir dan kemutlakannya. Bahwasanya tidak akan masuk surga kecuali orang yang mati dalam keadaan beriman meskipun iman yang tidak sempurna. Inilah zhohir yang ditunjukkan oleh hadits diatas.” Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ‘Tebarkanlah salam di antara kalian’, hadits ini mengandung perintah yang agung untuk menebarkan salam kepada kaum muslimin baik yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal (Syarh an Nawawi ala Muslim, as Syamilah).
Berteman dengan Orang Shalih
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.” (Qs. al-Kahfi: 28)
Allah berfirman memberitakan penyesalan orang kafir pada hari Kiamat, yang artinya, “Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur‘an ketika Al-Qur‘an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Qs. al-Furqân: 28-29)
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang tergantung agama temannya, maka hendaklah seorang di antara kalian melihat teman bergaulnya.”[2]
Dari Abu Musa al-Asy’ari, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, perumpamaan teman baik dengan teman buruk, seperti penjual minyak wangi dan pandai besi; adapun penjual minyak, maka kamu kemungkinan dia memberimu hadiah atau engkau membeli darinya atau mendapatkan aromanya; dan adapun pandai besi, maka boleh jadi ia akan membakar pakaianmu atau engkau menemukan bau anyir.” (HR. Bukhari No.2101 dan Muslim No.6653)
Begitu besarnya pengaruh teman terhadap eratnya jalinan persaudaraan. Teman yang shalih akan senantiasa menunaikan hak saudaranya, menjaga kehormatan saudaranya, saling menyayangi diantara mereka, saling menasehati dalam ketakwaan, tolong menolong dalam kebaikan dan saling mencintai dan membeci karena Allah. Oleh karena itu wahai saudariku, bertemanlah dengan orang shalih niscaya engkau akan beruntung.
Semoga Allah senantiasa memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Allahu A’lam Bishshowab. Washalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi wattabi’in.
[1] Diriwayatkan oleh at Tirmidziy (10/88,87), beliau berkata: “Hadits ini hasan shahih” , Ibnu Majah (3973), Hakim (2/413) dan dishahikan oleh al Albani.
[2] Shahih, diriwayatkan Imam Abu dawud dalam Sunan-nya (4833), at Tirmidzy dalam Sunan-nya (2379) dan beliau berkata: “Hadits ini hasan” dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (3/303,334).

Kenapa Musti Baca Al-Qur’an Sih, Kan Kita Tidak Tau Bahasa Arab?


Kenapa Musti Baca Al-Qur’an Sih, Kan Kita Tidak Tau Bahasa Arab?

Mungkin bisa jadi diantara kita pernah terbesit pertanyaan sesuai judul diatas, apalagi bagi kita kita yang tidak memiliki latar belakang pendidikan agama Islam secara khusus seperti jebolan pesantren. Menurut saya itu pertanyaan yang manusiawi.
Memang lebih ideal kita bisa melakukan sesuatu pekerjaan maupun perintah agama bila kita lebih memahami dasar dari manfaatnya bukan sekedar doktrin “Pokoknya”. Coba simak cerita berikut ini.
Ini adalah sebuat cerita penuh hikmah. Seorang Kakek Muslim Amerika hidup di sebuah pertanian di pegunungan bagian timur Kentucky dengan cucu laki2nya. Setiap shubuh sang Kakek selalu bangun awal, duduk di meja dapurnya membaca Al-Quran. Cucunya selalu ingin seperti kakeknya,
dan meniru perbuatan kakenya tersebut sebisanya..Suatu hari sang cucu bertanya, “kek, aku mencoba membaca Al-Quran seperti kakek, tapi aku tidak mengerti, kalaupun ada yang aku mengerti aku langsung lupa begitu aku menutup Al-Quran. Apa sih manfaat membaca Al-Quran?”
Sang kakek pun berbalik perlahan, menghentikan kerjanya memasukkan batu bara ke tungku dan menjawab. “Ambillah keranjang batu bara ini, dan pergilah ke sungai dan bawakan aku sekeranjang air” Sang cucu melakukan apa yang diperintahkan kepadanya, tapi semua air tumpah
sebelum ia berhasil kembali ke rumah. sang kakek tersenyum dan berkata “kamu harus bergerak lebih cepat mengangkut airnya” dan menyuruh sang cucu tuk kembali ke sungai mengambil air. Sang cucu pun berusaha lari dengan cepat ketika mengantar air, namun tetap saja airnya tumpah.
Sambil kehabisan nafas, ia pun berkata kepada kakeknya bahwa tidak mungkin mengangkut air dengan keranjang, lalu sang cucu berjalan tuk mengambil ember sebagai ganti keranjang.
Sang kakek berkata, “aku menginginkan sekeranjang air, bukan seember air. kau kurang bekerja keras tuk mengambilnya” , dan si kakek pergi ke pintu tuk melihat si cucu berusaha lagi. Ketika itu, sang cucu sudah tahu bahwa perbuatannya tidak ada manfaatnya, tapi dia ingin menunjukkan kakeknya bahwa secepat apapun dia lari, air dari keranjang akan tetap tumpah. Dia mengambil air di sungai, lalu berlari cepat ke kakeknya, namun air tetap tumpah sebelum ia sampai ke tempat kakeknya. Maka ia pun berkata, “lilhat kek, gak da manfaatnya kan!”
“jadi kamu berpikir perbuatanmu tidak ada manfaatnya?” , sang kakek berkata, “lihatlah keranjangnya”
sang cucu melihat ke keranjangnya dan untuk pertama kalinya ia sadar bahwa keranjangnya telah berubah. Keranjangnya telah berubah dari keranjang batu bara yang kotor menjadi keranjang yang bersih, luar dalam.
“Cu, itu yang terjadi ketika kau membaca Al-Quran. Kamu mungkin tidak mengerti atau mengingat apa pun, tapi ketika kamu membacanya, kamu akan berubah, luar dalam. Dan itu adalah kuasa Allah atas diri kita”.
Semoga kita bisa menangkap maksud cerita diatas sebagai suatu hidayah untuk kita melakukannya dengan tulus dan ihklas semata hanya untuk-Nya.

Ketika Kamu Tidak Tahu, Maka Tanyakanlah Kepada Yang Maha Tahu | Tips Mempersiapkan Bekal dengan Berdoa Ketika Ujian


Ketika Kamu Tidak Tahu, Maka Tanyakanlah Kepada Yang Maha Tahu | Tips Mempersiapkan Bekal dengan Berdoa Ketika Ujian
Bismillahirrahmanirrahiim…

Assalamualaikum Warahmatullah

Fenomena mengenai kebuntuan dalam menjawab suatu soal yang sulit merupakan kewajaran bagi seorang siswa sehingga menyebabkan dirinya merasa bimbang jikalau tidak mampu menjawabnya. Apalagi seorang siswa dituntut atas suatu hal mengenai ujian tersebut. Kelulusan, itulah target umum setiap siswa di kelas akhir dari suatu tingkat sekolah dalam menempuh Ujian Nasional. Namun, tidaklah wajar jika seorang siswa harus melanggar peraturan yang sudah menjadi persetujuan antara dirinya dan pihak penyelenggara ujian, mengingat mematuhi peraturan tersebut adalah hal yang perlu disetujui siswa agar dirinya dapat mengikuti ujian tersebut. Mungkin, karena adanya tekanan psikologis yang terkadang mereka rasakan sehingga ada menjadikan beberapa diantara mereka terkhilaf untuk melakukan suatu pelanggaran mengingat mereka harus menempuh target.

Mencapai nilai tertentu merupakan suatu target bagi setiap siswa ketika UJian Nasional namun sekali lagi, hal itu tidaklah wajar untuk dilakukan bagi seorang siswa yang telah menyetujui peraturan dengan mengikuti ujian tersebut. Walaupun demikian, sebenarnya ada suatu cara yang sungguh efektif dan baik dalam membantu mereka mengerjakan ujian jika mereka membutuhkan bantuan.

Jika saja mereka tertantang untuk bertanya kepada sahabatnya yang juga memiliki masalah yang sama ketika tidak mampu menjawab suatu soal, lalu, mengapa mereka tidak mengalihkan keinginan itu kepada cara yang diperbolehkan bahkan cara yang sungguh mulia ketika dilakukan seorang siswa kepada Rabbnya?. Benar, cara itu adalah Berdoa. Mungkin, kita sering terkhilaf dalam suatu keadaan yang membuat kita tertantang melakukan suatu hal yang belum tentu baik untuk diri kita padahal kita masih memiliki cara yang lebih baik untuk menyelesaikannya. Begitupun ketika kita terjebak kepada suatu persoalan yang membuat kita tertantang untuk bertanya kepada orang lain yang belum tentu dirinya mengetahui sepenuhnya atas masalah kita, sedangkan kita memiliki kesempatan untuk bertanya kepada Yang Maha Mengetahui. Mengapa kita tidak membiasakan untuk bertanya kepada Yang Maha Tahu ketika kita tidak tahu, padahal Yang Maha Tahu itu lebih tahu apa yang terbaik untuk kita daripada siapa-siapa yang kita anggap tahu? Dan bertanya kepadaNya bukanlah hal yang dilarang ketika ujian(Kalo ada larangannya, awas aja ^^V Masya Allah).

Maka dari itu gunakan senjatamu yang berupa doa karena doa itu merupakan senjata yang sangat ampuh ketika seorang muslim sedang terdesak. Percayalah bahwa Allah tidak mengingkari JanjiNya ketika kita meminta maka Dia akan mengabulkannya.

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. … " Al-Mu’min:60

Selain doa yang dipanjatkan dari seorang hamba kepada Allah akan dikabulkanNya, doa itupun dapat menjadikan siapa yang berdoa akan bertambah rasa percaya dirinya sehingga dapat meningkatkan rasa optimisnya dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dia hadapi. Kemudian dengan rasa optimis itu jiwa-jiwa yang merasa resah akan menjadi yakin karena hatinya ia pautkan kepada Rabb Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sehingga hati-hati yang lemah akan menjadi kuat sehingga permasalahan-permasalahan yang dihadapinya menjadi begitu kecil dan membuatnya dirinya lebih optimal dalam mengurusi permasalahan yang dihadapi.

Dengan doa seseorang dapat membuat dirinya menjadi teduh sehingga dapat membuat dirinya tenang dan dengan ketenangan ini seluruh fungsi tubuhnya akan bekerja dengan baik. Jiwa yang tenang akan menjadikan dirinya pun cenderung menjadi tenang. Dan ketenangan diri merupakan perhiasan yang sangat berharga ketika seseorang sedang menghadapi permasalahan yang serius karena tanpa ketenangan seseorang tidak dapat mengerjakan suatu permasalahan secara optimal.

Mungkin analoginya seperti ini: bayangkan, apa yang terjadi jika seseorang lupa menaruh sebuah kunci untuk membuka lemari, yang kunci tersebut terdapat di antara tumpukan kunci? Bila dirinya tidak tenang maka fikirannya akan stres atau bisa menyebabkan dirinya berputus asa hingga menjadi pesimis dengan banyaknya kunci padahal dia telah menaruh kunci itu ditempat yang sangat spesifik agar tidak tertukar dengan kunci yang lain. Bukankah jika sedikit saja dia menenangkan diri untuk memberikan kesempatan kepada fikirannya untuk berexplorasi secara menyeluruh sehingga dirinya mampu mengembalikan ingatannya mengenai letak kunci agar dapat membuatnya dengan mudah menemukan kunci yang dicari?. Begitupun ketika kita menghadapi masalah yang memerlukan suatu ‘data’ penting untuk menyelesaikan suatu permasalahan, jika kita tidak tenang maka ilmu-ilmu pendukung yang pernah terkubur dalam fikiran kita akan sulit diingat kembali. Oleh karenanya ketenangan sangat dibutuhkan ketika ujian.

Jika demikian berarti, ketenangan dapat menjadikan seseorang mengeksplorasi fikirannya secara lebih menyeluruh hingga hal itu akan memudahkan seseorang untuk mengembalikan ingatan-ingatannya mengenai ilmu-ilmu yang pernah dipelajari olehnya agar dapat lebih membantu dirinya untuk mengolah data-data yang terdapat pada soal-soal yang hendak dijawab. Dan ketenangan itu diperoleh dari ketundukan hati kepada Rabb dengan membiasakan diri dengan Berdoa. Karena dengan ingat kepada Allah, maka hati akan menjadi tenteram. Dan ketenteraman akan menghasilkan perasaaan yang tenang namun fikiran tetap bersiaga. Subhanallah… Insya Allah.

Dalam peng-eksplorasi-an fikiran ketika mencari ilmu-ilmu yang berguna jika dilakukan secara apik maka dapat membuat seseorang menemukan ide baru dalam menyelesaikan pekerjaannya. Sehingga ketika ujian itu berlangsung, siswa bukan hanya menjawab soal saja, melainkan ketika ujian itupula dirinya dapat menambah wawasannya dalam menyelesaikan soal tersebut dengan cara yang lebih praktis. Keren khan? Subhanallah, Insya Allah.

Selain ketenangan merupakan sesuatu hal yang sangat berharga ketika menghadapi suatu permasalahan, perasaan yakin juga merupakan sesuatu hal yang sangat berharga bagi seseorang siswa dalam mengerjakan ujian. Karena dengan keyakinan kita mampu mengaplikasikan apa yang kita miliki menjadi lebih nyata. Bayangkan apa yang terjadi jika keyakinan itu tidak kita miliki?, Maka kita tidak memiliki kemampuan yang optimal dalam menyatakan sesuatu yang kita ketahui. Analoginya mungkin seperti ini, anggaplah ada sebuah komputer yang begitu hebat dalam memproses suatu pekerjaan, namun komputer itu tidak dialiri listrik, kira-kira apakah komputer tersebut dapat bekerja untuk mengerjakan pekerjaannya? Tidak. Begitupun keyakinan pada diri kita, jika kita tidak yakin terhadap suatu hal maka belum tentu kita mampu mengerjakan pekerjaan tersebut dengan optimal.

Dan keyakinan itu dipupuk dari kepercayaan kita terhadap Kuasa Allah dalam mempermudah segala pekerjaan kita. Dan keyakinan itu dibentuk dari ketundukan hati dengan Berdoa. Maka berdoalah agar Allah mengkaruniakan kita keyakinan yang cukup dalam membantu kita mengerjakan tugas-tugas kita. Insya Allah

Jika masalahnya adalah pembendaharaan ilmu, maka jangan berputus asa ketika kita merasa ilmu yang kita miliki adalah sedikit sehingga kita menjadi pesimis dalam menghadapi ujian, ketahuilah bahwa permasalahan yang kompleks sebenarnya lahir dari permasalahan yang paling sederhana. Damn permasalahan yng sederhana dapat diperoleh dari permasalahan yang kompleks. Sebagai contoh: mungkin kita berfikir sederhana ketika memahami angka 1, padahal ada proses matematis yang jumlahnya tak terhingga dalam menghasilkan angka tersebut. Mulai dari model 1 + 0 atau model yang seperti ini 0.0001/0.0001 atau bahkan yang seperti ini ((sqr(64)+2)- sqr(81)x(35x10^3)x999)^0(y
a jelas saja, setiap angka yang di pangkatkan dengan nol maka hasilnya adalah “1” :Dv (masya Allah) ) yang dimana kesemua penjumlahan itu menghasilkan angka “1”. Jadi kita tidak perlu pesimis ketika menghadapi ujian yang dimana kita merasa bahwa kemampuan terbatas. Karena kemampuan kita yang sedikit itu sebenarnya memiliki banyak sekali manfaat yang dapat membantu kita dalam mengolah data-data yang terdapat di soal-soal ujian untuk menghasilkan jawaban terbaik walaupun dari soal tersulit sekalipun.

Namun selain keyakinan yang kita miliki kita juga perlu memiliki bekal yang cukup untuk menyelesaikan tugas kita dengan baik. Dan itu harus dipupuk sedemikian rupa sehingga ketika ujian nanti kita mampu mengoptimalkan diri kita dalam menerapkan apa yang telah kita pelajari. Bayangkan, apa yang terjadi jika sebuah DVD player tidak memiliki decoder yang gunanya sebagai pengubah signal cahaya yang dipantulkan dari sebuah piringan DVD menjadi data film? Walaupun DVD player itu dialiri listrik sekalipun maka DVD player tersebut tidak mampu memainkan film yang terdapat pada piringan DVD tersebut. Oleh karenanya DVD player itu harus memiliki “ilmu” yang disebut dengan decoder yang berguna untuk menterjemahkan signal-signal cahaya yang diterima agar dapat diteruskan menjadi suatu data yang dapat dimainkan. Begitupun juga dengan diri kita, selain keyakinan yang perlu kita persiapkan dalam memberikan jiwa optimisme ke dalam diri kita ketika menghadapi ujian maka kitapun perlu mempersiapkan bekal yang memadai sebagai ‘decoder’ yang mampu mengolah berbagai macam bentuk soal agar menghasilkan sebuah jawaban yang paling baik secara mudah dan tepat.

Namun bukan karena sudah merasa cukup memiliki bekal, sehingga kita telah merasa sangat percaya diri untuk menjawab soal-soal ujian. Meningkatkan performa kita dengan cara memperkaya bekal adalah sangat diperlukan karena dapat membantu kita mempersingkat waktu dalam mengolah suatu soal, karena kita juga harus dapat mengelola waktu ketika ujian berlangsung. Dan tidaklah waktu yang singkat dalam mengerjakan suatu soal diperoleh kecuali dari banyaknya ilmu yang lebih mendukung untuk mengerjakannya. Bayangkan jika kita pernah diberikan gambaran yang banyak mengenai perjalanan ke kota Roma maka kitapun akan cepat sampai di sana, daripada diri kita yang hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang perjalanan ke kota tersebut, walaupun tidak mustahil jika kita dapat sampai di kota tersebut namun bisa jadi memakan waktu yang lama. Tetapi, saat ini kita bukan sedang berjalan ke kota Roma yang tidak dibatasi waktu untuk pergi ke sana, melainkan kita berada pada arena ujian yang waktunya dibatasi. Sehingga bekal ilmu yang banyak sangat perlu bagi seorang siswa ketika menghadapi ujian agar dapat mempersingkat dirinya dalam menjawab soal-soal yang diuji dengan cepat dan tepat.

Kembali lagi kepada Doa, …

Membiasakan diri dengan Berdoa dapat meningkatkan ketajaman hati seseorang ketika berhadapan dengan masalah yang dia hadapi. Dari ketajaman hati ini dapat membuat dirinya meningkatkan rasa kehati-hatian yang dapat menjadi pengingatnya ketika dia bertindak tidak wajar terhadap apa yang dia lakukan. Dan kitapun tahu bahwa kehati-hatian juga sangat diperlukan oleh seorang siswa karena kehati-hatian dalam mengolah soal merupakan hal yang sangat berharga ketika ujian, lantaran bisa jadi seorang siswa terkhilaf ketika menjawab soal sedang ia kurang teliti.

Dari ketajaman hati inipun, seseorang dapat menimbang-nimbang antara mana yang baik dan mana yang kurang baik untuk diikut sertakan kepada pengolahannya terhadap suatu masalah. Dan peristiwa menimbang-nimbang kelayakan ini merupakan tindakan yang sangat efektif dan efisien dalam menyelesaikan suatu masalah. Semakin tajam hati itu maka akan dapat membuat seseorang makin peka terhadap ketidak seimbangan disekelilingnya sehingga dengan itu dia akan berusaha untuk merubahnya agar keadaan yang tidak seimbang itu menjadi seimbang. Begitupun ketika sedang menghadapi suatu masalah, jika hati tajam maka dirinya akan peka terhadap apa-apa saja yang tidak seimbang disekitarnya sehingga naluriah yang sudah terpahat oleh ilmu yang dimilikinya akan merespon ketidak seimbangan itu agar dirinya merubah keadaan tersebut menjadi keadaan yang seimbang. Itulah gunanya hati yang tajam.

Dan penajaman hati ini harus di dukung dengan faktor luar, yaitu memelihara pandangan. Karena dengan memelihara pandangan hati seseorang akan terhindari dari rasa picik maupun maksiat. Pemeliharaan pandangan tidak hanya terpaut kepada lawan jenis namun hal lainnya yang berupa pandangan-pandangan yang dilarang seperti melihat kertas jawaban orang lain ketika ujian( :Dv ) padahal hal itu dilarang, maupun melihat hal-hal yang dilarang lainnya. Ingatlah bahwa pencurian bukan berarti apa yang dilakukan oleh tangan saja melainkan matapun juga dapat mencuri. Dan apapun yang dicuri maka tidak lah berkah. Mulailah kita belajar untuk memelihara pandangan kita sejak dini agar mata hati kita tidak terbiasa untuk mencuri sehingga hati kita terhindari dari kemaksiatan kemudian dengan itu hati akan menjadi tajam.

Kembali kepada rasa yakin,…
Dan agar kita bekerja secara lebih optimal emosi diri kita juga harus stabil, dan penstabilnya adalah ketenangan diri. Mungkin analoginya seperti ini: jika komputer hebat tadi telah bekerja karena sudah dialiri listrik, namun pasokan listrik yang mengaliri komputer tersebut tidak stabil, apakah komputer itu akan bekerja dengan baik? Belum tentu, namun kita tidak perlu khawatir karena bisa saja listrik yang dibutuhkan komputer hebat itu tetap stabil walaupun listrik yang diterimanya tidak stabil, yaitu dengan adanya stabilizer yang dimana tugas stabilizer adalah penstabil masuknya aliran listrik untuk menghasilkan keluaran yang stabil kepada komputer hebat tersebut. Begitupun dengan diri kita, walaupun suasana kelas dan keadaan ketika dalam masa pengujian itu tidak mendukung setidaknya kita harus punya stabilizer untuk menstabilkan diri kita agar tetap tenang. Dengan apa? Dengan menjadikan ujian sebagai suatu keindahan. Sehingga hal itu cenderung tidak mencari-cari alasan untuk berputus asa ketika suasana sedang tidak mendukung. Insya Allah.

Dan berdoalah dengan mengharap Keirdhaan Allah dalam mengerjakan suatu pekerjaan, karena tanpa keridhaanNya kita tidak mampu mengerjakan pekerjaan apapun walaupun sebenarnya kita mampu mengerjakannya dan dengan KeridhaanNya seseorang yang tidak tahu mampu menyelesaikan suatu permasalahan akan dijadikan mampu olehNya jika Dia berkehendak. Ingatlah, tidak ada yang tidak mustahil di dunia ini, semua itu akan terjadi jika Allah menghendaki dengan keridhaanNya. Sekarang yang kita usahakan adalah apa yang seharusnya kita lakukan agar Allah menghendaki kita mendapati keridhaanNya dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kita?. Persiapkanlah hal yang mendukung dalam menyelesaikan permasalahan kita karena hal itu adalah salah satu kunci agar Allah menghendaki kita mendapati RidhaNya. Insya Allah.

Ujian Nasional tinggal sebentar lagi, berarti masih ada waktu bagi kita untuk memperkaya bekal untuk menghadapinya. Janganlah bersikap pesimistis, majulah terus melewati garis yang diharapkan.

Jadikanlah ujian bagaikan sebuah permata yang indah yang perlu dirawat dengan sentuhan-sentuhan yang lembut dan teliti agar ketika permata itu digunakan nantinya kita akan merasa puas, apalagi jika permata itu adalah murni dari hasil pahatan tangan kita sendiri. Sungguh kepuasan atas kemampuan kita dalam menyelesaikan permasalahan secara mandiri merupakan kepuasan yang tak ternilai harganya. Sucikan apa yang akan engkau peroleh, agar Allah memberkahi setiap langkah-langkahmu. Insya Allah.

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,
dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
yang memberatkan punggungmu
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain
dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
QS. Alam Nashrah(92)

Semoga apa yang tertuang ini Bermanfaat, Insya Allah
Semoga Allah memaafkan aku ketika aku bersalah
Allahuma Amiin

Walaikum salam Warahmatullah
Sabar dan Tsabat dalam Menghadapi Rintangan Dakwah


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak kita dapati kejadian yang membutuhkan kesabaran. Sebab, hidup itu sendiri, memang, merupakan perjuangan yang tidak lepas dari segala macam tantangan. Dan sikap yang terbaik untuk menghadapinya adalah bersabar dan tidak gegabah.

Sabar atau tsabat timbul karena adanya tantangan. Sejauh seseorang dapat bersabar, sejauh itu pula ia berhasil menghadapi suatu tantangan. Dengan kata lain, kesabaran adalah buah kemenangan yang dicapai oleh seseorang dalam bertempur menghadapi tantangan. Hal ini sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW, bahwa orang yang kuat adalah orang yang dapat menundukkan dirinya ketika ia hendak marah, mampu bersabar mengekang hawa nafsunya.

Manusia yang diciptakan Allah SWT di muka bumi ini sejak dari Nabi Adam AS telah dipertemukan oleh Allah dengan pokok tantangan yaitu syaitan, yang juga sebagai musuh utama manusia. Hal demikian dimaksudkan oleh Allah untuk memilih dari seluruh menusia yang diciptakan-Nya, manusia-manusia yang akan menjadi khalifah-Nya di muka bumi.

Tugas khalifah, tugas untuk memimpin dan mengatur dunia, inilah yang dibebankan oleh Allah SWT kepada manusia. Karena tugas khalifah di muka bumi ini merupakan tugas yang berat dan besar maka Allah SWT menghendaki khalifah-Nya yang mengemban tugas tersebut adalah mereka yang mampu menghadapi tantangan-tantangannya dan mampu bertahan, sabar, dan tetap berpegang teguh pada tali-tali ajaran-Nya.

Sabar adalah ekhususan manusia.

Telah disebut di muka bahwa sabar atau tsabat timbul karena adanya tantangan. Dan timbulnya tantangan karena adanya suatu kekuatan dan kehendak yang kebanyakan saling berbeda. Maka, suatu hal yang janggal apabila dikatakan bahwa seekor lalat sangat sabar, atau seekor kerbau sangat tabah dan sabar tatkala datang musim kering sehingga tidak ada suatu rumput pun yang tumbuh, umpamanya.

Yang demikian itu karena lalat dan kerbau itu mempunyai banyak kekurangan. Keduanya tidak mempunyai akal untuk berfikir dan memberikan pertimbangan-pertimbangan mengatakan kelaparan. Segala yang mereka perbuat hanya berdasarkan syahwat hayawaniyah dan karena insting semata.

Juga suatu hal yang sulit diterima, apabila dikatakan bahwa para malaikat itu sabar dan tabah. Sebab, para malaikat diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang selalu taat dan patuh manjalankan perintah-perintah-Nya dan tidak pernah berbuat maksiat sekalipun.

Para malaikat tersebut tidak dikuasai oleh syahwatnya yang akan membelokkannya dari kepatuhan dan taatnya kepada Allah SWT sehingga terjadi pergolakan dalam diri para malaikat. Atau, menimbulkan adanya tantangan bagi para malaikat dan menuntut untuk bersabar menghadapinya. Tidak demikian halnya karena yang ada pada para malaikat tersebut hanyalah satu hal, yaitu kepatuhan dan tidak maksiat.

Dengan demikian, maka kesabaran ini menjadi kekhususan bagi manusia saja. Sebab, dalam diri manusia selalu terjadi dua hal yang saling bertolak belakang. Manusia telah dibekali dengan setumpuk petunjuk Allah untuk menghadapi segala macam tantangan, mulai dari petunjuk instink, panca indera, akal, sampai kepada agama--petunjuk yang paling sempurna. Tetapi, Allah tidak membiarkan manusia begitu saja menggunakan petunjuk-petunjuk-Nya tadi. Allah SWT masih akan mengujinya dengan berbagai macam bentuk ujian.

Allah berfirman, “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, “kami telah beriman “ sedang mereka tidak diuji lagi, dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang belum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang dusta.”

Syaitan sebagai musuh bebuyutan manusia selalu menggodanya melalui nafsunya, akalnya, bahkan agamanya sekalipun. Di sinilah terjadinya tantangan dan pergolakan dalam diri manusia. Hanya manusia-manusia yang tetap tegak, tsabat dan istiqamah dalam garis-garis Allah SWT yang akan memperoleh kemenangan.

Rasulullah SAW dan para sahabatnya adalah contoh konkret.

Pada dasarnya risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan para nabi sebelumnya adalah sesuai dengan fitrah manusia. Hal demikian menghendaki risalah yang dibebani oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW, akan diterima dengan mudah oleh umat manusia. Memang demikianlah halnya bagi orang-orang yang suci hatinya. Bersih dari penyakit kekufuran, kedengkian dan kebancian.

Dengan segala lapang dada mereka menerima risalah yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Hal ini bisa dilihat pada orang-orang terdekatnya, Khodijah binti Khuwailid, Abu Bakar Shiddiq, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas, dan lainnya. Tetapi, sunnatullah dalam berdakwah, menyiarkan kebenaran, menunjukan kenyataan lain.

Ketikan Rasulullah mulai bergerak menyiarkan dakwahnya secara terang-terangan di bukit Shofa, justru tantangan pertama kali datang dari paman beliau, Abu Jahal yang mengatakan kepada Rasulullah: “Celakalah engkau wahai Muhammad, hanya untuk inikah kiranya engkau mengumpulkan kami.”

Tantangan yang dihadapi oleh Rasulullah SAW tidak berhenti sampai disitu. Orang-orang Quraisy mengingkari dakwah Rasulullah SAW dengan dalih bahwa mereka tidak bisa meninggalkan agama warisan nenek moyang mereka yang telah mendarah daging. Semakin lama Rasulullah SAW menyiarkan risalahnya dan semakin tampak cahaya benderang, semakin gencar pula tantangan yang dihadapinya. Para sahabat beliau pun tidak luput dari gangguan orang musyrikin Quraisy.

Satu contoh ketabahan dan tsabat, dapat kita temui pada Rasulullah SAW. Pada suatu ketika Rasulullah SAW sedang berjalan di sebuah lorong kota Mekkah. Datanglah ejekan, bahkan penghinaan dari beberapa orang.

Mereka menaburkan pasir di atas kepala Rasulullah SAW. Beliau meneruskan perjalanan sampai kembali ke rumahnya dan kepala Rasulullah SAW masih kotor dengan pasir. Melihat demikian, salah seorang putri Rasulullah beranjak hendak membersihkan pasir tersebut sambil menangis. Dengan penuh ketabahan Rasulullah SAW berkata kepada putrinya, “Wahai putriku, janganlah engkau menangis, karena sesungguhnya Allah yang akan melindungi bapakmu.”

Disamping Rasulullah sabar menghadapi segala cobaan ujian dan penganiyaan, beliau juga tetap tsabat, terus menekuni tugas sucinya (menyampaikan risalah) dengan berbagai macam usaha. Berdakwah siang dan malam, baik secara sembunyi dan terang-terangan, mendatangi para kaum ke tempat-temapat perkumpulan mereka.

Pada setiap musim haji Rasulullah SAW secara aktif menyampaikan kegiatan dakwahnya, menyampaikan kalimat Allah SWT yang haq kepada setiap orang yag ditemuinya, besar-kecil, kaya-miskin, hamba sahaya dan orang merdeka, mengajak mereka untuk menjadi pembela ajarannya, dan bagi mereka yang mau mengikuti Rasulullah SAW dijanjikan belasan syurga

Setiap Rasulullah SAW berhadapan dengan tantangan dakwah, beliau selalu menunjukkan sikapnya yang tetap tabah dan tsabat. Orang-orang Quraisy telah melakukan segala cara menghalangi dakwah Rasulullah SAW, tetapi semuanya tidak menunjukan hasil yang mereka inginkan, semuanya berakhir dengan sia-sia. Suatu ketika mereka hendak membujuk Rasulullah SAW datang kepada paman beliau, Abu Thalib. Mereka meminta tolong agar Abu Thalib bisa mempengaruhi Rasulullah SAW untuk meninggalkan dakwahnya. Rasulullah SAW menjawab dengan tegas.

Ketegaran dan ketabahan Rasulullah SAW dalam menghadapi segala tantangan dakwah ini, tercermin pula pada diri para sahabatnya. Bilal bin Rabah, diterlentangkan di bawah terik sinar matahari dan perutnya ditimbun dengan batu yang besar, dipaksa disuruh menyembah Latta dan Uzza dan meninggalkan ajaran Muhammad. Bilal menolak, dan tetap mengatakan, ”ahad, ahad” isyarat bahwa ia enggan menyembah, kecuali Tuhan yang satu/tunggal.

Ammar bin Yasir dan keluarganya disiksa kaum musyrikin di tengah padang pasir yang sangat panas. Ketika Rasulullah SAW mendapati mereka, beliau berkata, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir.” Samiyyah yang dibunuh oleh Abu Jahal karena menolak segala permintaannya, kecuali satu, yaitu Islam.

Sebenarnya, para musuh dakwah tersebut tidak mengingkari akan kebenaran ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Akan tetapi, karena adanya rasa dengki dan hasad dalam hati mereka dengan segala cara berusaha menghalangi perjalanan dakwah beliau.

Sabar dan tsabat mutlak diperlukan dalam dakwah.

Kehidupan dunia yang sangat kompleks dan sarat dengan berbagi ragam keadaan, membuat manusia tidak pernah sepi dari kemungkinan adanya bencana yang akan menimpanya. Berapa banyak manusia yang kandas cita-citanya, terserang penyakit, kehilangan harta, dan seterusnya. Ini merupakan sunnatullah di dunia yang penuh keanekaragaman

Kalaulah sunnatullah dalam kehidupan dunia dan pada diri manusia menghendaki demikian. Maka para pengemban dakwah akan lebih besar kemungkinannya untuk tertimpa kesusahan. Mereka adalah orang-orang yang mengajak kepada ajaran Allah SWT. Dalam waktu yang sama mereka akan mendapatakan perlawanan dari kaum thaghut.

Mereka mengajak kepada kebenaran, maka musuhnya adalah orang-orang yang mengajak berbuat batil. Ketika mereka menyuruh kepada hal-hal yag ma’ruf, mereka akan berhadapan dengan penyeru kemungkaran. Sunnatullah menghendaki terciptanya Adam dengan Iblis, Nabi Ibrahim dan raja Namrud, Musa dan Fir’aun, Muhammad SAW dan Abu Jahal. Allah menegaskan dalam firmannya, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan dari jenis manusia, dan dari jenis jin, sebagai mereka membisikan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan indah untuk menipu.” (Q.S. 6/Al-An’am: 112)

Begitulah keadaan para nabi, para pewarisnya, dan siapa saja yang berdakwah di jalan-Nya. Namun, orang-orang mukmin yang yakin dan mengetahui umurnya di dunia sangat pendek, yang menyadari sunnatullah pada para rasul dan nabi serta para pengemban dakwah yang mengikuti jalan-Nya, merekalah orang-orang yang akan sabar menghadapi cobaan, tabah menerima ujian. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Mereka yakin sepenuhnya bahwa segala apa yang menimpanya adalah sesuai dengan kadar yang telah tercatat. Segala cobaan yang menimpanya mereka pandang sebagai pelajaran yang berharga, pendidikan yang akan membuat jiwa dan keimanan semakin matang Walhasil, ketika mereka baru keluar dari penjara, umpamanya, bagaikan emas yang baru disepuh.

Maka hendaknya demikianlah halnya para pengemban dakwah, tidak akan pernah putus asa dan kehilangan harapan. Di dalam dirinya tertanam akidah yang kuat dan sejuta simpanan sebagai bekal dakwah dan senjata untuk menghadapi pergolakan hidup yang penuh tantangan. Wallahu a’lam bishshawab.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ - والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tendensi cinta dalam ukhuwah

Tendensi cinta dalam ukhuwah

Kadang sering kali kita terjebak oleh slogan atawa ungkapan-ungkapan yang memprovokasi kita dengan kata-kata cinta apalagi kata-kata pada sya’ir lagu pada zaman sekarang yang mengagungung-angungkan cinta sehingga terasa bahwa cinta itu labih pantas diperjuangkan dari pada agama, keluraga, bangsa bahkan diri sendiri. Yang pada ahkirnya saya tertarik untuk mengomongkan tentang cinta walau saya buakan pakar cinta atawa punya gelar dalam studi kelayakan tentang cinta. Cinta dalam pandangan umum yaitu hal tidak dapat dikaitkan dengan hal yang bersifat kongkrit misalnya kita mencintai seseorang karena cantiknya, kayanya, tampanya, kalau cinta kita karena tendensi yang bersifat kongkrit itu bukanlah cinta. Cinta sesungguhnya merupakan hal yang abstrak yang tidak bias dikaitkan dengan hal yang bersifat nyata, misalnya kita mencintai seseorang lalu kita ingin mengungkapkan cinta kita padanya atawa kita ingin menggambarkan/menceritakan cinta kita pada orang lain betapa cintanya kita pada dia, tentu tidak akan bisa tergambarkan, karena cinta itu merupakan suatu hal yang abstrak. Banyak sekali teori tentang cinta seperti filsuf dari Germany yaitu Eric form yang menyatakan bahawa cinta itu tidak memandang lapisan social, ras, kasta bahkan agama. Tentunya kalau kita tidak mengambil konsep cinta yang benar, yang sesuai dengan dienul Islam maka akan sangat tidak relevan dengan our daily live, akan kontra dengan kanyataan yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh misalnya seorang yang telah barumah tangga selama bertahun-tahun tapi tidak ada rasa cinta selama mereka mengarungi bahtera rumah tangga, atau kenapa ya kok sorang ustad jarang yang falling in love terhadap artis, ini baru misal kalau ada perlu dipertanyakan ustadnya soleh atawa toleh. Then we take other example, kenapa ada orang yang tampan tapi dia dapat istri yang jelek, tapi kenapa suaminya bengitu cinta pada dia, atawa contoh lain seorang yang menikah tapi sebelumnya tidak kenal bahkan tidak pernah ketemu sama sekali tapi bisa langsung cinta dan mengarungi rumah tangga sampai akhir hayat. Pada hal disisi lain banyak orang yang pacaran bertahun-tahun tapi baru akad beberapa bulan saja sudah cerai. Apa lagi kalau kita lihat pernikahan selebritis Indonesia coba tengok kisah pernikahan yang Cristina penyanyi dangdut dengan seorang pengusaha baru beberapa bulan sudah bercerai (eh jangan di bilang kalau saya penggemar infotaiment…he he he it’s just example). Jadi apa makna cinta? Apakah dalam Islam tidak ada pembahasan tentang cinta? Apakah ada konsep-konsep cinta dalam Islam?

Karena Islam merupaka addienun syamilun yaitu agama yang mecakup segala aspek kehidupan tentu ada konsep cinta dalam Islam. Islam memandang cinta didasarkan pada satu hal yaitu cinta yang tendesinya Alloh dan karena Alloh. Cinta pada Alloh dan mencintai karena Alloh. Cinta merupakan karuania dari Alloh, sehingga tidak perlu adanya pengushaan ataupun ponolakan cinta. Sehingga apabila seorang muslim mencitai sesuatu atau mencintai seseorang dia tidak kuasa menolak kehadiran cinta tersebut atau berusaha mencintai sesuatu yang memang tidak dia cintai. Kapan rasa cinta itu tumbuh pada sesuatu atau seseorang dalam hal ini akan bebanding lurus dengan besarnya cinta orang tersebut pada Alloh Swt atau refleksi cinta pada Alloh yang tercerminkan cintanya pada sesuatu atau orang yang dia cintai. Maka ketika seorang muslim mencintai Alloh maka Alloh akan mengruniakan cinta dia terhadap orang-orang yang di cintai Alloh. Hikmahnya yaitu orang tersebuta akan mencintai hal-hal yang dicintai Alloh & orang-orang yang dicintai Alloh Swt, Sufian Ibnu kuyaimah guru dari Imam Syafi’I mengatakan “ barang siapa yang mencuintai Alloh maka akan mencintai siapa saja yang dicintai oleh Alloh”. Walaupun orang itu belum lama bergaul dengan dia atawa bahkan tidak pernah ketemu atau kenal dengan dia. Karena dia akan faham siapa-siapa orang yang dikarunia dan dicintai oleh Alloh Swt, maka tidak aneh jika baru pertama ketumu langsung timbul cinta (mahabba) yang dalam hadits disebut al mutabbani (dua orang yang saling mencintai). Sehingga pepatah “tak kenal maka tak saying, tak saying maka ta cinta” sangat tidak cocok sekali dikorelasikan dengan konsep cinta dalam pandangan Islam atau konsep cinta secara umum. Seperti halnya pepatah jawa “tresno jalaran soko kulino” love coused by usually, ini kan sangat bertentangang dengan cinta pada pandangan Islam. Tapi kalau cinta yang disandarkan kerana Alloh walau tidak kenal atau tidak pernah ketemu bisa langsung jatuh cinta, ini cinta yang didasarkan karena Alloh, sehingga Alloh akan menumbuhkan rasa cinta. Walau dia hanya kenalan lewat chatting saling messaging lewat blog tawa e-mail tapi kalu memang satu aqidah dan mempunyai satu manhaj/jalan yang sama maka Alloh akan menumbuhkan dan menyuburka cinta di dalam dada mereka. Sehingga tidak jarang orang muslim yang starting their family dengan lantaran dunia maya. Sehingga terjalin ukhuwah yang erat walau hanya lewat chat yang mereka tidak kenal dan tidak tau wajah masing-masing. Inilah hikmah dari orang-orang yang mencintai Alloh. Selama kita mencintai Alloh dia mencintai Alloh maka kita tidak akan mampu menolak rasa cinta yang hadir di dalam diri kita. Yang terkadang dalam didri kita ada nafsu yang berbicara lain, mengapa sich anda mencintai dia padahal kan dia itu tidak cantik, tidak kaya, dan dia itu dari negeri yang memusuhi negeri Anda”. Walaupun juga sesama muslim di pisah-pisahkan oleh negera masing-masing tapi perasaan satu dienulloh itu yang membuat rasa cinta merekatkan muslim yang berbeda-beda negara, ras, suku dan warna kulit. Rasa gembira akan meliputi seorang muslim kala dia bertemu dengan muslim lain dibelahan dunia ini. Walau hany Cuma lewat chatting atawa mereka saling memberi ucapan salam pada blog yang dimiliki seorang muslim. Tendesi cintalah yang menetukan besarnya cinta kepada Alloh dan kedekatan seorang pada nafsunya. Ini merupakan kunci kesuksesan yang dicapai para pendahulu kita dalam membina ukhuwah dan kebersaman dalam da’wah maupun membina keluraga. Karena sebagai landasan cinta mereka berangakat dari lndasan awal cinta yaitu cinta pada Alloh Swt. karena dalam hatinya yakin Alloh lah yang mengatur rasa cinta pada dirinya. Sehingga menikah tanpa tau calon istri atau suami tidaklah masalah, akhirnya saat mereka pertama berjumpa pada pandangan pertama akan langsung timbul rasa cinta walaupun istri tidak cantik atau suaminya tidak tampan tapi tidak ada rasa penyesalan dalam diri mereka kerana landasan utamanya adalah mencintai Alloh, sehingga Alloh mengaruniakan rasa cinta, karena besarnya cinta pada pasangannya tergantung besarnya cinta pda Alloh Swt.

Semoga Alloh sentaisa merekata ukhuwah sesama muslim karena mencintai Alloh dan saling mencintai karena Alloh. Kerana Alloh lah yang menggengam hati setiap insan. Wallohu’alam
Tersenyumlah Untuk Hidup!

Meski setebal apapun mendung melintasi langit, namun sinar mentari tak pernah kehilangan cirinya. Ia senantiasa menghadirkan sinarnya untuk dibagi. Ia senantiasa tegar tanpa kehilangan jati dirinya sebagai sumber penerang di hari ini. Ia tak pernah menunda bersinar hingga esok, meskipun ia dapati mendung menghalangi keindahan sinarnya. Setiap tumbuhan kembali terjaga dari tidurnya. Kembang-kembang kembali bermekaran ceria menyambut harinya. Burung-burung terbang dan berkicau dengan merdunya. Semua hadir tanpa rasa sedih, gelisah, dan amarah. Semua ceria untuk menjelang setiap detik anugerah-Nya.

Saudaraku,

Sudahkah kita berniat bahwa hari ini akan kita hiasi dengan senyum ceria dan kebahagiaan? Sudahkah kita bertekad untuk menyongsong hari ini dengan rasa optimis dan semangat hidup yang akan kita bagi dan tularkan? Dan sudahkah kita menjadikan berbaik sangka sebagai modal bagi kita untuk meneruskan perjalanan ini?

Saudaraku,

Begitu sia-sia rasanya perjalanan hidup jika setiap detiknya tidak pernah kita hargai dan syukuri. Begitu menyiksanya perjalanan hidup jika setiap ujian yang menerpanya kita hadapi dengan kemarahan dan wajah yang muram. Dan begitu berat rasanya langkah hidup jika kita tak mau berbagi sedikitpun. Kesedihan tidak akan mengembalikan segala yang hilang menjadi kembali. Tangisan penyesalan akan terasa hampa tanpa kesungguhan usaha untuk bangkit dari kelalaian diri. Setiap nasehat hanya akan menjadi penghias belaka jika sedikitpun tak diniatkan untuk dilakoni. Semua usaha akan terasa sia-sia jika sedikitpun tak berserah diri kepada-Nya.

Tersenyumlah atas anugerah hidup hari ini. Bersyukur dan berbaik sangkalah bahwa Dia masih memberikan kesempatan bagi kita untuk kembali. Sebut setiap asma-Nya dengan penuh kerendahan hati. Besarkan Dia dalam setiap aktifitas dan detik perjalanan ini. Jangan engkau halangi senyuman itu jika akan tersungging di ujung bibirmu hanya karena kegundahan yang tak jelas asal usulnya. Jangan engkau gantikan keceriaan diri dengan kesuraman hati yang engkau tampakkan lewat wajah yang bermuram durja.

Saudaraku,

Berbagilah hari ini. Berbagilah untuk setiap kebahagiaan yang engkau rasakan di hati. Tak perlu kau ukur dengan besar atau kecilnya nilai berbagi itu. Berbagilah walau sekedar berwajah ceria dan sepatah kata sapa dan salam. Tetaplah berbagi dan tersenyum dalam rangka mensyukuri segala anugerah-Nya hari ini. Tetaplah berbagi dan tersenyum layaknya mentari yang tak menunda hadirnya meski mendung menyelimuti indah sinarnya hari ini.
Diperbarui sekitar sebulan yang lalu · ·